Membahas mengenai informasi seputar kehidupan kampus di Indonesia

Prudent, Optimistis, Fokus

BANYAK berita menggembirakan beberapa minggu paling akhir ini tentang kapasitas perekonomian nasional. Salah satunya kurs rupiah yang semakin kuat, tujuan pajak yang terlampaui, inflasi yang teratasi, dan perkembangan credit yang terlihat menggairahkan.

Pasti deretan info itu bisa menjadi penutup tahun yang melegakan mengingat keadaan perekonomian dunia masih tetap diliputi ketidakpastian. Perlahan-lahan tetapi tentu nilai ganti rupiah selalu kuat dalam satu bulan paling akhir.

Baca juga : Jurusan di UPI

Bila di awalnya November kurs kita masih tetap ada di titik Rp15.195 per dolar AS (USD), minggu tempo hari telah kuat di angka Rp14.539 per USD berdasar pada kurs rujukan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor). Menurut Bank Indonesia (BI), aspek pemicu kuatnya rupiah ialah keyakinan investor pada perekonomian kita yang semakin tinggi. Perihal ini di dukung dengan mengendurnya perang dagang pada China serta Amerika Serikat (AS).

Taktik BI untuk lakukan hedging lewat kebijaksanaan Domestic Non-Deliverable Forwards (DNDF) dapat dibuktikan cukuplah kuat menaikkan keyakinan beberapa investor, terutamanya buat mereka yang suka bertransaksi dengan mata uang negara lainnya. Pola hedging akan membuat nilai transaksi jadi lebih konstan sebab ada “jeda” untuk mengatur dinamika harga pasar keuangan global.

Selain itu sentimen perekonomian internasional belakangan ini nampaknya mulai dikit tenang sesudah berlangsung dialog pada Presiden AS Donald Trump serta Presiden China Xi Jinping. Pertemuan dua pesohor itu membawa hasil positif dengan ketetapan Trump untuk tunda kenaikan tarif import produk China ke AS dari 10% jadi 25%. Prediksi positif dari investor internasional memulai bertumbuhan.

Mengenai sentimen negatif pada dolar AS masih tetap bersambung sebab The Fed (Bank Sentra AS) lebih pilih dovish (wait and see untuk tingkatkan suku bunga). Yield obligasi AS terlihat tengah terjerat inversi sebab hasil beberapa kebijaksanaan meleset dari harapan pasar. Resiko periode pendek condong bertambah di mata beberapa investornya.

Demikian sebaliknya BI justru berani lakukan hawkish (meningkatkan suku bunga bertambah cepat dibanding harapan) satu bulan yang lantas dengan kembali tingkatkan suku bunga untuk ke enam kalinya selama tahun berjalan. Pola DNDF ikut menyangga penguatan rupiah yang dalam satu pekan tempo hari level kenaikannya jadi yang terunggul ke-2 di Asia-Pasifik.

Trend kenaikan cadangan devisa ikut masih tetap bersambung dalam dua bulan paling akhir sebelumnya setelah (Januari–September 2018) BI selalu mengobralnya untuk menjaga wibawa rupiah pada dolar AS. Cadangan devisa kita terdaftar ada pada angka USD117,2 miliar sesudah November tempo hari bertambah USD2 miliar.

Tidak hanya karena animo pada rupiah yang kuat 6% saat November, devisa kita ikut diselamatkan harga minyak dunia yang anjlok sampai 22% (poin to poin). Setidaknya penurunan harga minyak itu membuat kita tidak sangat terbebani dengan agregat defisit perdagangan yang nilai mayoritasnya dikarenakan defisit perdagangan minyak serta gas (migas). Jadi BI cuma memakai dikit cadangan devisa untuk memantapkan rupiah.

Baca juga : Jurusan di UI

Untuk sesaat waktu, keadaan yang ada dapat membuat kita dikit tersenyum manis mendekati akhir 2018. Pembagian kepemilikan asing dalam Surat Bernilai Negara (SBN) per 3 Desember 2018 tempo hari membumbung tinggi sampai Rp899,94 triliun, sama dengan 37,92% dari keseluruhan yang telah tersebar sebesar Rp2.372,95 triliun.

Dengan nominal memang masih tetap tambah tinggi dari rekor 29 Januari 2018 yang tembus Rp873,81 triliun. Akan tetapi bila kita banding dengan akhir November 2018 tempo hari, telah terlihat ada penurunan sebab pada saat itu sudah sempat sampai Rp900,59 triliun.

Pasti, keinginan kita semua keadaan ini dapat kita pertahankan (stabilitasnya) atau bahkan juga jika butuh selalu ditingkatkan. Walau begitu kita masih tetap butuh waspada sebab perbaikan yang ada bisa saja semakin banyak didorong sentimen negatif pada perekonomian AS daripada daya tarik perekonomian kita sendiri.

Hal tersebut makin menguatkan tanda-tanda jika investasi SBN masih tetap termasuk hot money yang rawan pada rumor global serta domestik. Bahkan juga rumor penangkapan salah satunya pejabat perusahaan Huawei juga telah dapat menggoyang ketahanan mata uang kita.

  • コメント

    名前
    Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
    Komentar hanya dapat dihapus oleh pemilik Blog!
    削除
    Prudent, Optimistis, Fokus
      Komentar(0)