Membahas mengenai informasi seputar kehidupan kampus di Indonesia

Mahasiswa Unair Berhasil Ubah Limbah B3 Jadi Batu Bata

Mahasiswa Fakultas Sains serta Tehnologi (FST) Kampus Airlangga (Unair) Surabaya sukses bikin batu bata dari limbah B3 yang bernilai manfaat tinggi.

Mereka juga coba menangani pencemaran limbah B3 ini dengan rencana green technology. Langkahnya dengan jadikan limbah B3 jadi bahan baku batu bata tanpa ada pembakaran.

Baca juga: Biaya Kuliah UNEJ - Biaya UKT UNEJ

Lewat beragam pengujian, batu bata dari limbah B3 itu mempunyai kwalitas standard, murah, praktis, serta ramah lingkungan.
Tiga mahasiswa dari prodi Tehnik Lingkungan ini bernama Sri Eka Dewi Sukarelawati, Vindi Fatikasari, serta Wildani Mahmudah.

Lewat riset panjang, mereka ambil konsentrasi pada potensi limbah B3 Iron Slag jadi bahan baku batu bata dengan Rencana Green Technology. Hasil riset ini sukses lolos seleksi serta beroleh hibah riset Kemenristekdikti dalam Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) 2018 untuk bagian riset eksakta (PKMPE).

Ketua tim PKMPE Unair Sri Eka Dewi menjelaskan, riset ini dikerjakan pergi dari tindakan long march warga Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto. Mereka menyuarakan sangkaan pencemaran limbah B3 oleh suatu perusahaan pengolah limbah B3 yang dilapokan pada Gubernur Jawa Timur Soekarwo sekian waktu yang lalu.

“Limbah B3 itu adalah zat bekas satu aktivitas yang lantaran karakter, konsentrasi, serta banyaknya, baik segera serta tak segera bisa mencemarkan serta mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup, ” tutur Sri, Kamis (21/6/2018).

Tehnologi dalam riset, tuturnya, pihaknya menggunakan stabilisasi-solidifikasi untuk kurangi serta menyingkirkan ciri-ciriistik limbah B3 supaya tak beresiko. Satu diantaranya di proses jadi batu bata yang membuatnya tak lewat pembakaran.

Karena pembakaran batu bata memakai kayu bakar atau batu bara juga menyebabkan permasalahan lingkungan sendiri, yakni polusi hawa disebabkan munculnya gas karbondioksida (CO2) yg tidak ramah lingkungan.

“Pembuatan batu bata tanpa ada pembakaran bisa kurangi cost membuatnya, tak berketergantungan dengan cuaca, tetapi membuahkan product dengan kwalitas standard, murah, praktis serta ramah lingkungan, ” katanya.

Dengan rencana green technology tanpa ada pembakaran, tuturnya, dalam membuatnya dikerjakan dengan menambahkan kapur, semen, serta soil hardener powder. Bahan penambahan ini berperan untuk pemadatan bata serta percepat saat pengeringan.

Sri juga menuturkan, riset itu adalah inovasi dari sebagian riset pada awal mulanya yang memproses limbah B3 iron slag jadi batako. Diluar itu memproses B3 iron slag jadi batu bata merah lantaran membuatnya lebih gampang daripada type bata yang lain. Terkecuali iron slag juga ada bahan sludge kertas jadi perekat dalam pembuatan batu bata itu.

Baca juga: Biaya Kuliah UIN SUKA

”Kami telah lakukan pengujian kwalitas berdasar hasil batu bata itu dengan rangkaian pengujian. Salah satunya uji pandangan luar, uji ukuran serta toleransi, uji kuat tekan, uji garam yang membahayakan, uji kerapatan semu, uji penyerapan air, serta uji TCLP dengan macam bahan yang dipakai yakni kombinasi pada iron slag, sludge kertas serta bahan pemadat, ” kata mahasiswi angkatan 2014 itu.

Berdasar pada uji coba dalam riset itu diketemukan tiga macam paling baik dengan nilai kandungan logam berat Zn yang beresiko. Sesudah sistem stabilisasi-solidifikasi diketemukan nilainya di bawah baku kualitas berdasar pada ketentuan PP No. 101 Th. 2014.

  • コメント

    名前
    Silahkan masukan huruf yang tertulis pada gambar di atas dengan benar.
    Komentar hanya dapat dihapus oleh pemilik Blog!
    削除
    Mahasiswa Unair Berhasil Ubah Limbah B3 Jadi Batu Bata
      Komentar(0)